Kehidupan Yang Hanya Mementingkan Akhirat Disebut

Kehidupan Yang Hanya Mementingkan Akhirat Disebut – Rumah Islami adalah rumah yang dibangun dengan visi masa depan, mengutamakan masa depan di atas dunia. Rumah tangga sibuk menyiapkan bekal untuk akhirat, dengan harapan bisa dipertemukan kembali di surga Allah.

Rumah tangga yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya bukan berarti rumah tangga tanpa masalah, tetapi ketika ada masalah, keduanya sama-sama tunduk pada penyelesaian menurut al-Qur’an, sebagai sikap tunduk kepada hukum Allah, kembali kepada solusi dari Al-Qur’an, sehingga ia akan menemukan jawaban yang lengkap.

Kehidupan Yang Hanya Mementingkan Akhirat Disebut

Rumah Islami adalah rumah yang selalu menjalankan tata krama rumah tangga yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan penuh komitmen, agar terhindar dari masalah besar seperti kecurangan. Kalaupun terjadi penyimpangan karena kelalaiannya, keduanya segera bertaubat dan berusaha mensucikan diri secepatnya, karena sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat.

Matinya Hati Nurani

Rumah Islami adalah rumah yang benar-benar merasakan kehadiran Tuhan di dalamnya, sehingga segala persoalan dikembalikan kepada Tuhan.

Rumah Islami adalah rumah yang lebih mementingkan akhirat, sehingga ketika dua kepentingan berkonflik maka kepentingan akhiratlah yang akan diutamakan.

Rumah tangga yang Islami adalah rumah tangga yang selalu mendambakan pertolongan Allah dalam menyelesaikan masalah, karena pertolongan Allah untuk itu merupakan bakat dan rahmat-Nya yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Sedangkan pertolongan Allah hanya akan datang dengan takwa dan amal kebaikan yang banyak.

6. Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, meskipun lahir dari proses yang haram, sehingga masih berpeluang menjadi manusia yang berhasil dalam urusan masa depan dan dunia.

Utamakan Akhirat Tetapi Jangan Lupakan Bagian Kita Di Dunia

Bersungguh-sungguh dalam mengajar, dan selalu optimis yang didukung penuh dengan doa dan amal saleh. Jangan jadikan latar belakang atau lingkungan anak sebagai kondisi yang selalu memicu sikap pesimis saat mendidiknya.

7. Jika sebuah rumah dihiasi dengan nilai-nilai Al-Qur’an, sudah sepantasnya jika Allah menyebutnya sebagai rumah tangga yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang Allah. Sebaliknya, rumah tangga yang jauh dari Al-Qur’an, rumah tangga yang sedikit rahmat dan rahmatnya.

Bismillah.. Dari Hudzaifah RA, beliau berkata: “Saat itu kami sedang duduk bersama Umar. Maka, Umar berkata, “Siapakah di antara kalian yang mengingat perkataan Rasulullah SAW tentang fitnah. Jadi saya menjawab, “Saya orangnya.” Umar berkata, “Memang, Anda adalah salah satu ahli dalam masalah ini.” Saya pun menyampaikan masalah dihadapannya, “(Ketahuilah), fitnah yang menimpa seorang laki-laki mengenai keluarga, harta, anak atau tetangganya dapat dihindari dengan shalat, puasa, bersedekah, dan melakukan Amar ma’ruf a nahi munkar.” Umar bersabda, “Bukan itu yang saya maksud, melainkan fitnah yang menerpa (umat Islam) seperti ombak di lautan.” Maka Hudzaifah berkata, “(Tenang) kamu tidak akan merasakan sakitnya fitnah itu wahai Amirul Mukminin, karena antara fitnah itu dengan dirimu sendiri ada pintu yang tertutup (menghalanginya).” tanya Umar. “Apakah pintu itu mirip

Bismillah.. PROLOG Kisah istri Abu Lahab tidak lepas dari kisah Abu Lahab dan perbuatan keluarganya yang sepakat berbuat dosa. Keluarga Abu Lahab menjadi peringatan bagi keluarga muslim untuk tidak melakukan hal tersebut. Keluarga yang sepakat masuk neraka, suami istri yang sepakat dalam permusuhan dan dosa. Padahal Allah memerintahkan kita untuk membantu dalam kebaikan, bukan dalam kejahatan. Surat Al Lahab merupakan surat makiyyah yang diturunkan secara bersamaan dalam satu surat. Ayat ini diturunkan karena Abu Lahab sejak awal berusaha sekuat tenaga untuk mencegah orang masuk Islam, menjauhkan orang dari Islam. Namun usaha mereka sia-sia karena banyak orang yang masuk Islam. Siapakah Abu Lahab? Nama asli Abu Lahab adalah Abdul Uzza. Memberi nama itu salah, namanya berarti hamba uzza (uzza adalah salah satu berhala yang disembah oleh kaum musyrik Mekkah). Nama ini sekaligus bohong karena uzza bukan

Foto Dakwah: Seimbang Antara Dunia Dan Akhirat ?

Seorang wanita memiliki energi yang besar, dan jika digunakan dengan benar akan membuat perbedaan besar di masyarakat. Kunci utama dalam mengasuh anak adalah Anda harus dekat dengan anak Anda, menjadi ibu yang dirindukan oleh anak Anda. Bencana parenting yang pertama adalah ibu yang tidak hilang, ibu kehilangan jiwa magnetnya. Jadi betah, seperti ibu rumah tangga. Tidak masalah jika kita bekerja di luar, namun pekerjaan rumah tangga harus tetap menjadi hal yang utama. Anak betah di luar rumah nongkrong, karena tidak betah dan tidak mau dekat dengan ibunya. Salah satu penyebabnya adalah tidak mendapatkan pelukan dan perhatian yang cukup dari ibu saat anak masih kecil, terutama selama 2 tahun pertama. Salah satunya saat proses menyusui, jangan abaikan langkah ini. Jadilah ibu seperti yang digambarkan Nabi, ibu dari wanita subur yang berjiwa penyayang. Jadilah ibu yang menghibur. Salah satu caranya adalah dengan menjadi contoh bagi kita dan perilaku positif kita. Selalu memberi Segelintir orang percaya bahwa dunia dan masa depan harus seimbang. Tidak diperbolehkan meninggalkan dunia atau meninggalkan dunia setelah ini. Dunia yang dimaksud disini adalah kehidupan seperti harta, pangkat, jabatan dan sebagainya, sedangkan dunia mulai sekarang juga lebih condong kepada agama, amal saleh, pahala dan sebagainya. Benarkah dunia dan seterusnya bagi seorang muslim harus seimbang?

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita lihat beberapa ayat Alquran yang berbicara tentang dunia ini dan dunia akhirat.

Dan tidak ada kehidupan di dunia ini selain bermain dan bercanda. Dan memang desa selanjutnya lebih baik untuk orang saleh. Lalu Anda tidak memahaminya? (QS Al-An’aam ayat 32)

Lihatlah bagaimana Kami lebih memilih sebagian dari mereka daripada yang lain (dalam memelihara karunia-karunia Kami) dan sesungguhnya karunia-karunia di akhirat lebih tinggi kadar perbedaannya dan lebih banyak lagi di samping manfaatnya. (QS Al-Isra’ ayat 21)

My Thought: Dunia Vs Akhirat

Dari ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa dunia dan akhirat tidak sama dan itu berarti keduanya tidak bisa seimbang. Jika kita mengambil timbangan berat, yang berikut pasti lebih berat dari dunia.

Dunia ini hanya sementara dan fana. Jika kita mengejar dunia, kita tidak akan bisa mendapatkan semuanya. Dalam Al-Quran dikatakan bahwa dunia adalah permainan yang menipu. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara bagi setiap manusia untuk diuji keimanan dan ketakwaannya kepada Allah S.W.T. Apakah kita lulus ujian atau tidak? Jika kita lulus, maka surgalah pahalanya, jika kita gagal, maka sebaliknya.

Dunia adalah jalan menuju akhirat yang harus dilalui semua manusia sebelum memasuki akhirat yang abadi. Dunia tidak dapat ditinggalkan karena merupakan proses, tetapi proses ini memiliki banyak gangguan dan godaan. Dengan perilaku dan aktivitas yang dapat mengalihkan jalan kita dari tujuan semula. Misal kita dari KL mau ke bandara, dalam perjalanan ke bandara banyak gedung megah, banyak mall, pemandangan indah yang membuat kita berhenti, belanja dulu, selfie dulu sampai lupa kalau kita mau ke bandara. Tanpa sadar waktu terus berjalan hingga kami ketinggalan pesawat. Seperti halnya dunia, dunia membuat kita begitu ceroboh sehingga kita melupakan tujuan kita yang sebenarnya. Melupakan Allah, kebanyakan kita mengingat-Nya hanya saat susah, saat perlu, selebihnya seperti Allah S.W.T tidak ada. Dalam Al-Qur’an sudah disebutkan

Mereka hanya mengetahui apa yang lahir/materi (hanya) dari kehidupan dunia; sedangkan orang-orang yang mementingkan (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS Ar-Ruum ayat 7)

Tugas Pai Artikel Adnan Novix Romadan 03

Jadikan duniamu untukmu mulai sekarang bukan dunia untuk dunia. Perbedaan antara keduanya. Rasulullah S.A.W adalah teladan yang paling mulia. Dia memiliki jabatan, pangkat, kekayaan, ketenaran, tetapi dia sombong, angkuh, riya’, tidak sama sekali. Kalau kita mau berpikir, Rasulullah S.A.W berpotensi membuat segala macam penyakit jantung. Dia mampu membangun rumah mewah, dia bisa memakai pakaian mahal, dia mampu makan makanan enak, tapi apakah dia melakukan itu? Sama sekali tidak. Apakah Rasulullah S.A.W lumpuh (miskin)? Sekalipun Nabi miskin, beliau masih bisa meminta kepada sahabat-sahabatnya yang kaya seperti Ustman. Jika tidak, Nabi bisa bertanya kepada malaikat atau langsung kepada Allah S.W.T. Namun satu hal pun tidak dilakukan Nabi karena sifatnya yang zuhud, sederhana dan rendah hati.

Ada sebuah cerita ketika Rasulullah pulang dan bertanya kepada Aisyah, hai Aisyah, apakah ada makanan yang bisa saya makan? Saya belum makan. Aisyah berkata, Tidak ya Rasulullah. Rasulullah S.A.W menjawab, benar, jadi hari ini saya berpuasa. Rasulullah S.A.W mengikat perutnya satu kali hingga dia memukul perutnya dengan batu karena lapar. Meskipun Rasulullah S.A.W lapar, beliau tidak mengemis.

Dari kisah dan teladan Rasulullah S.A.W, beliau lebih mementingkan kehidupan setelah kematian daripada dunia. Dunia hanyalah ladang untuk mengadu nasib, maka jangan sampai kita terlena oleh godaan dunia. Apalagi sekarang hidup di zaman dimana segala sesuatu sudah maju dan modern. Dia ingin makan di McD, dia ingin minum di Starbucks, dia ingin handphone Iphone 6s, semuanya mahal dan tidak lepas dari sifat riya dan sombong yang ada disana. Menjadi orang sederhana bukan berarti kita miskin. Memiliki harta dan kekayaan itu penting, tetapi harus digunakan untuk kehidupan setelah kematian, seperti bersedekah, membangun masjid, sekolah dan sebagainya.

Mendekatlah kepada Allah S.W.T dan berusaha mencintai-Nya. Karena cinta kepada Allah lah yang akan membawa kita ke masa depan yang cerah mulai dari sekarang. Sebagaimana Rabiyatul Adawiyah (perempuan sufi pertama) pernah berkata “Aku beribadah kepada Allah bukan karena aku takut akan neraka-Nya dan bukan karena surga-Nya, tetapi aku beribadah kepada-Nya karena aku mencintai-Nya”. Di sinilah letak kenikmatan sesungguhnya sebagai sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Tidak mudah untuk mencapai tahap itu, tapi setidaknya kita berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Tinggalkan dosa-dosa besar, lalu hal-hal kecil dan meragukan, In Syaa Allah akan membuat kita tenang di dunia terutama di akhirat.

Kutipan Indah Islami Pengingat Berbuat Kebaikan Untuk Dunia Dan Akhirat

Sumber : – Al-Quran Al-Karim – Prof. dr. H. M. Amin Syukur, M.A., Sufisme Sufisme: Tasawuf dan Tanggung Jawab Sosial – M. Subkhan Anshori, Lc, M.Sc, Tasawuf dan Revolusi Sosial – Kursus Tasawuf oleh Dr. Nur Hadi Ihsan MIRKH, dosen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *